Selasa, 19 Mei 2009

Oraganisasi.

Organisasi Bercorak Buddhism

Organisasi dapat dirumuskan sebagai suatu kerjasama berdasarkan suatu pembagian kerja yang tetap. Hidup berkelompok pada umumnya membutuhkan suatu perkumpulan atau organisasi. Didalam UUD'45 pasal 28, berorganisasi disebutkan dengan istilah berserikat, sedangkan apabila kerjasamanya tidak permanent disebut berkumpul.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku, kehidupan berkelompok dalam organisasi negara dibagi dalam dua macam, yaitu:

1. Organisasi kehidupan sosial politik
2. Organisasi kemasyarakatan sebagai penyalur aspirasi kehidupan
berkelompok yang dirinci atas:
a.Sebidang, contoh organisasi profesi
b.Sefungsi, contoh organisasi kewanitaan
c.Seagama, contoh organisasi keagamaan

Organisasi pemuda dan sosial bercorak Buddhism.

> Perkumpulan Padumuttara

Berdasarkan Statuten Besluit pemerintah kolonial Hindia Belanda tanggal 6 Januari 1912 no.28 di Tangerang berdiri sebuah organisasi masyarakat keturunan Tionghoa yang diberi nama 'Perkoempoelan Boen Tek Bio'. Tujuan didirikannya perkumpulan tersebut yang pertama adalah mengurus Kelenteng Boen Tek Bio seperti mengurus persembahyangan, merawat dan memperbaiki bangunan disekitar komplek, menyalurkan dana-dana yang berasal dari para dermawan. Yang kedua mendirikan dan mengurus tanah yang kemudian dikenal dengan nama Tanah Cepe, Tanah Gocap dan Tanah Perei (tanah gratis) yang diberikan secara cuma-cuma bagi warga yang tidak mampu mengurus pemakaman, dari mulai petinya sampai tanahnya. Sebagai ketuanya yang pertama adalah Souw Sian Tjiang, yaitu tuan tanah Kramat, wakilnya Tan Nay Toen.

Sejak RI berdiri Statuten> tahun 1912 kemudian diperbaharui dan disahkan oleh Menteri Kehakiman RI tanggal 14 Februari tahun 1950 No.JA. 5 2/3/24. Tujuan dari berdirinya perkumpulan hampir sama dengan Statuten tahun 1912, hanya ada tambahan yang dirasa cukup penting oleh para pengurus adalah masalah pendidikan. Sejak awal para pengurus sudah sadar bahwa Boen Tek Bio adalah tempat ibadah milik masyarakat Tangerang. Oleh karena itu, bentuk organisasi yang dipakai dari semenjak Statuten pertama sampai Statuten 1950 adalah Perkumpulan bukan yayasan yang merupakan milik perorangan.

Situasi politik tahun 1950-an sampai jatuhnya orde lama, memaksa sebagaian pengurus Boen Tek Bio terlibat politik praktis yaitu dengan masuk partai Baperki. Setelah peristiwa G 30 S/PKI, perkum pulan memasuki masa yang sulit. Nama Boen Tek Bio pun harus menyesuaikan diri dengan keinginan pemerintah dan ganti nama menjadi perkumpulan Padumuttara. Trauma G 30 S/PKI menyebabkan para pengurus mengambil sikap untuk kembali keasal tujuan berdirinya perkumpulan ini yaitu hanya mengurus masalah yang berkaitan dengan masalah agama dan sosial. Cita-cita para pengurus untuk kaderisasi di era orde baru baru terwujud setelah pemerintah secara berturut-turut memberikan izin pendirian sekolah Setia Bakti pada tahun 1973 dan Perguruan Budhi pada tahun 1974. Pengurus perkumpulan Padumuttara yang terlibat masalah pendidikan pada masa awal pembentukan kedua sekolah tersebut antara lain adalah Tirta Hirawan, Kawinata Halimi Lim Tjeng Sun, Sudhanta Halim, Oey Yan Kim yang kelak menjadi bhikkhu dengan nama Bhikkhu Sukhemo. Dari dua sekolah tersebut, tahun 1985 jumlah muridnya sudah mencapai 1800 siswa.

> Kamadhis UGM

Hingga tahun 1991 di UGM hanya terdapat empat unit kerohanian. Satu-satunya unit kerohanian yang belum terbentuk adalah Unit Kerohanian Buddha. Ketiadaan Unit Kerohanian Buddha sebenarnya sudah dirasakan sebelumnya, tetapi usaha-usaha untuk merealisasikannya masih belum terlihat.

Ide pembentukan Unit Kerohanian Buddha baru muncul ke permukaan setelah terjadinya suatu peristiwa menjelang OPSPeK UGM bulan Agustus 1990 yang membuat kami merasa sangat membutuhkan kehadiran Unit Kerohanian Buddha. Kelahiran dari Unit Kerohanian Buddha yang diberi nama Keluarga Mahasiswa Buddhis (Kamadhis) UGM melalui suatu proses yang panjang dan perjuangan yang berat dari mahasiswa-mahasiswa Buddhis UGM yang telah turut berperan serta mewujudkan keberadaannya. Karena itu, penting sekali bagi semua mahasiswa Buddhis UGM untuk mengetahui latar belakang dan sejarah berdirinya Kamadhis UGM agar kehadirannya tidak menjadi sia-sia karena kurangnya rasa memiliki dan kesadarannya tentang pentingnya keberadaan Unit Kerohanian Buddha di lingkungan Universitas.

Pada bulan Agustus 1990 diadakan acara pembekalan panitia pusat OPSPeK UGM. Anggota-anggota panitia terdiri atas wakil-wakil fakultas dan unit kegiatan di UGM. Di antara peserta yang hadir terdapat seorang mahasiswa yang mewakili "Unit Kerohanian Buddha". Kehadirannya disebabkan oleh permintaan unit kerohanian lain untuk mewakili Unit Kerohanian Buddha yang kosong. Hari berikutnya bersama mahasiswa Buddhis yang lain mengadakan rapat di Jl. Soka 4 (Sentrum NSI). Tujuannya adalah membentuk panitia untuk mengisi acara kerohanian Buddha dalam OPSPeK. Kemudian dari rapat tersebut terbentuk suatu panitia yang keanggotaannya tidak terbatas pada satu tradisi agama Buddha saja. Eksistensi mahasiswa-mahasiswa Buddhis UGM ditunjukkan secara nyata selama OPSPeK merupakan hal yang sangat positif. Karena dari hal inilah muncul ide dan inisiatif dari salah satu perintis Kamadhis untuk membentuk Unit Kerohanian Buddha UGM. Sejarah Berdirinya Ide pembentukkan Unit Kerohanian Buddha UGM dan aktivitasnya dalam mengisi acara kerohanian kemudian didiskusikan di Kaliurang tanggal 18-19 Agustus 1990. Dalam diskusi disepakati untuk membentuk Unit Kerohanian Buddha di UGM. Berdasarkan kesepakatan tersebut kemudian disampaikan keinginan untuk membentuk Unit Kerohanian Buddha UGM kepada Pembantu Rektor III UGM yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak Ir. Haryana. Selanjutnya dipersiapkan rancangan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Unit Kerohanian Buddha UGM yang akan dibentuk di vihara Buddha Prabha. Konsep rancangan tersebut disusun kembali secara lengkap oleh Sdr. Sui Huat, mahasiswa fakultas ISIPOL. Setelah semua persiapan selesai mahasiswa-mahasiswa Buddhis di UGM dihubungi untuk mengadakan rapat pembentukan Unit Kerohanian Buddha UGM. Rapat ini diselenggarakan pada tanggal 6 September 1990 di vihara Vidyaloka. Dalam rapat disetujui untuk membentuk formatur yang bertugas menyusun kepengurusan Unit Kerohanian Buddha UGM dan memimpin jalannya persidangan.

Hasil keputusan sidang adalah sebagai berikut :

1. Menyetujui pembentukan Unit Kerohanian Buddha UGM dengan nama Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Gadjah Mada yang disingkat Kamadhis UGM.
2. Menetapkan AD dan ART Kamadhis UGM (AD dan ART ini kemudian direvisi pada sidang paripurna tanggal 27 Maret 1994 di Kaliurang).
3. Menetapkan lambang Kamadhis UGM yang berbentuk stupa dengan latar belakang lambang UGM. (Lambang ini kemudian diganti pada tahun 1995)
4. Mengukuhkan susunan pengurus Kamadhis UGM periode 1

Kemudian AD dan ART beserta susunan kepengurusan Kamadhis UGM diajukan kepada PR III untuk mendapatkan persetujuan. Walaupun menghadapi berbagai kendala, akhirnya beliau memberikan persetujuannya secara resmi bernomor UGM/1810/X/05/03 yang menyetujui berdirinya Kamadhis UGM dengan masa persiapan 1 tahun untuk menjadi Unit Kerohanian Buddha UGM pada tanggal 23 Maret 1991.

> KMBJ, Jakarta

KMBJ, Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta, didirikan tanggal 14 maret 1971 dengan nama Keluarga Mahasiswa Buddhis Djakarta (KMBD). Pembentukan KMBD ini ditujukan sebagai wadah bagi mahasiswa buddhis (di Jakarta) untuk mempererat dan saling membantu antar sesama mahasiswa dalam mempelajari agama Buddha, mengingat pada saat itu, jumlah mahasiswa buddhis masih sangat sedikit sehingga mereka harus terpaksa mengikuti mata kuliah agama lain. Untuk mendukung niat diatas, diterbitkanlah majalah Hikmahbudhi pada tanggal 16 mei 1971 sebagai wahana pendukung antar mahasiswa buddhis indonesia. Dua gebrakan inilah yang mengawali perjalanan KMBJ sebagai salah satu organisasi mahasiswa buddhis yang tertua dalam mengembangkan agama Buddha di Indonesia.

Sekarang sudah lebih dari 25 tahun perjalanan KMBJ, tentunya sudah banyak asam garam yang telah didapat dan setumpuk prestasi yang patut digores dengan tinta emas. Apa saja yang telah dilakukan selama lebih dari 25 tahun ini, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap KMBJ, bagaimana masa depannya, dan kemana arah tujuannya. Pertanyaan diatas sangat menarik untuk disimak.

Seiring dengan perkembangan agama Buddha di Indonesia pada awal tahun 70-an, KMBJ pada awal pembentukannya memfokuskan diri pada penggalangan mahasiswa buddhis di Jakarta untuk bergabung dalam satu wadah. Kegiatan-kegiatan yang mulai dirintis adalah peringatan Waisak, Kathina, Asadha, pendidikan seni, kegiatan sosial dsb. Salah satu kegiatan yang lahir dari pemikiran mahasiswa yang kreatif dan intelektual adalah Pekan Penghayatan Dhamma (PPD) yang dimulai tahun 1980. PPD masih terus dilaksanakan sampai sekarang dan banyak diselenggarakan pula oleh organisasi mahasiswa lainnya. Sukses dengan PPD, tahun 1984 KMBJ menyelenggarakan cepat-tepat buddhis dengan maksud merangsang generasi muda untuk lebih giat belajar Dhamma. Tiga tahun kemudian, KMBJ membuat lagi acara yang berlingkup nasional dan mendapat sambutan yang positip dari masyarakat yaitu mengadakan lomba cipta lagu buddhis dan vocal grup. Melalui kegiatan ini minat seni dikalangan generasi muda buddhis kembali bangkit dan hasilnya adalah bermunculannya musisi-musisi buddhis yang handal.

Selain PPD, cepat-tepat, dan lomba cipta lagu, masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang perlu dicatat seperti kunjungan ke panti jompo, panti asuhan, donor darah dan lain-lain. Disamping itu masih ada pula kegiatan-kegiatan yang lazim dilakukan oleh mahasiswa seperti seminar, bimbingan masuk perguruan tinggi, latihan kepemimpinan, english club dsb.

Melihat hasil yang telah dicapai selam ini, tentunya tidak dapat dibantah bahwa KMBJ merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan agama Buddha di Indonesia. Namun tentunya ini bukanlah langkah terakhir KMBJ. Masih banyak aral melintang di depan mesti dilalui. Maju terus KMBJ semoga tetap jaya.

> KMB Dhammavaddhana

KMB Dhammavaddhana didirikan pada tanggal 25 Juni 1989. Pada hari itu diadakan suatu pertemuan dikalangan mahasiswa Buddhis di linkungan kampus Universitas Bina Nusantara. Pertemuan ini dipelopori oleh Sdr. Tjia Jou Liang (angkatan 1988). Pada pertemuan ini, yang dihadiri sekitar tiga puluh orang mahasiswa, wakil dari GEMABUDHI dan ketua senat STMIK Bina Nusantara Sdr. Ponie Japit, berhasil dibentuk suatu struktur organisasi, proposal organisasi dan sekaligus nama organisasi yang akan menampung aspirasi umat Buddha di kampus Universitas Bina Nusantara, yaitu KMB Dhammavaddhana.

Dhammavaddhana berarti Perkembangan Dhamma. KMB Dhammavaddhana didirikan dengan dilandasi keinginan untuk memberikan suatu wadah untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan, sosial, kreatifitas budaya sekaligus untuk menampung aspirasi mahasiswa Buddhis di lingkungan Universitas Bina Nusantara.
read more...

Kamus Besar Bahasa Indonesia On line



Selamat datang di KBBI Daring
Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikenal dengan sebutan KBBI terbit pertama 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia. Sejak itu kamus tersebut telah menjadi sumber rujukan yang dipercaya baik di kalangan pengguna di dalam maupun di luar negeri. Setiap ada permasalahan tentang kata, KBBI selalu dianggap sebagai jalan keluar penyelesaiannya. Selain muatan isi, KBBI memang disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia. Oleh karena itu, rujukan tersebut kemudian semakin mengakar di dalam kehidupan berbahasa Indonesia walaupun upaya penyempurnaan isi tidak selamanya mengimbangi perkembangan kosakata bahasa Indonesia.

KBBI daring ini merupakan upaya penyediaan kemudahan akses terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia di mana pun, kapan pun, dan siapa pun selama dapat memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan komunikasi.

Pangkalan data KBBI daring ini diambil dari KBBI edisi III. Pemutakhiran dan penyempurnaan isi KBBI sedang dilakukan dan akan diterbitkan dalam edisi IV tahun ini. Tampilan antarmuka KBBI daring sengaja didesain dalam bentuk sederhana agar pengguna tidak menemukan kesulitan dalam penggunaan kamus ini.

Saran dan kritik Anda silakan kirimkan kepada Pusat Bahasa.

Jakarta, 4 Februari 2008

Dr. Dendy Sugono
Kepala Pusat Bahasa
read more...

Senin, 18 Mei 2009

Mars Karang Taruna.

read more...

Pemberdayaan Karang Taruna dengan Program LPM.

Karang Taruna merupakan wadah pembinaan generasi muda yanmg berada di Desa / Kelurahan dalam bidang Usaha Kesejahteraan Sosial. Sebagai wadah pembinaan tentu saja mempunyai beberapa program yang akan dilaksanakan yang melibatkan seluruh komponen dan potensi yang ada di Desa / Kelurahan yang bersangkutan.



Sebagai Lembaga / Organisasi yang bergerak di bidang Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan berfungsi sebagai subyek. Karang Taruna sedapat mungkin mampu menunjukkan fungsi dan peranannya secara optimal.

Sebagai organisasi tentunya harus memiliki susunan pengurus dan anggota yang lengkap dan masing-masing anggota dapat melaksanakan fungsinya sesuai dengan bidang tugasnya serta dapat dapat bekerja sama dengan didukung oleh administrasi yang tertib dan teratur.

Memiliki program kegiatatan yang jelas sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada disekitarnya Program Kegiatan Karang Taruna belangsung secara melembaga terarah dan berkesinambungan serta melibatkan seluruh unsur generasi muda yang ada.

Kemampuan untuk menghimpun dana secara tetap baik yang bersumber dari Pemerintah maupun swadaya masyarakat untuk pelaksanaan program masyarakat kegiatannya

Karang Taruna harus memiliki sarana prasarana yang memadai baik secara tertulis maupun administrasi Keberadaan Karang Taruna harus mampu menunjukkan peran dan fungsinya secara optimal di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat memberikan legetimasi dan kepercayaan kepada komponen-komponen yang lain yang sama-sama berpatisipasi dalam Pembangunan Desa / Keluraharan khususnya pembangunan dalam pembangunan dalam bidang Kesejahteraan Sosial, salah satu komponen yang berperan dalam pembangunan Desa / Kelurahan adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ( LPM ).

LPM bersama-sama dengan komponen–komponen yang lain sesuai dengan tugas, fungsi dan perananya berkepentingan membangun Desa / Kelurahan masing-masing. Mengetahui bahwa LPM sebagai lembaga masyarakat yang mewadahi segenap aspirasi masyarakat dalam Pembangunan Desa / Kelurahan secara menyeluruh ( Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, Pertahana dan Keamanan ) dan mempunyai tugas yang menyelenggarakan musyawarah Desa / Kelurahan maka Karang Taruna sebagai salah satu bagian dari partisipasi pembangunan bidang kesejahteraan sosial akan selalu koordinasi, konsultasi, koreksi dan memberikan kritik / saran maupun bentuk yang lain dengan LPM.

Pemberdayaan Karang Taruna dengan program LPM dalam Usaha Kesejahteraan Sosial ( UKS ). Telah di ketahui bersama bahwa Karang Taruna sebagai organisasi sosial kepemudaan yang ada di Desa / Kelurahan mempunyai tugas pokok yaitu : bersama-sama pemerintah menangani permasalahan sosial ( Pembangunan dibidang Kesejahteraan Sosial ). Sebagai organisasi Karang Taruna mempunyai program yang disesuaikan dengan kepentingan / keadaan masyarakat Desa / Kelurahan masing-masing.

Dalam program / kegiatan yang dilaksanakan LPM dan setelah dicermati, dikaji dan dipahami maka dapat ditarik suatu garis kerjasama koordinasi, saling mengisi, saling mendukung dan saling sumbang saran dengan program / kegiatan Karang Taruna sebagai bagian dari partisipasi masyarakat khususnya generasi muda, bidang Usaha Kesejahteraan Sosial, program–programnya akan dilaksanakan bersama-sama membahu pemerintah dalam pembangunan di Desa / Kelurahan meskipun Karang Taruna kosentrasinya pada Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial..

Sesuai dengan kondisi masing–masing Karang Tarunanya. Karang Taruna diharapkan mampu menyikapi dan menangani berbagi permasalahan kesejahteraan sosial para pemuda dan warga masyarakat umumnya, LPM sebagai wahana partisipasi masyarakat ( salah satunya Karang Taruna ) akan selalu memberikan spirit, dorongan dan membantu pembangunan Karang Taruna melalui program-program yang telah direncanakan Karang Taruna. Karang Taruna yang telah siap dengan program-programnya dan telah dikoordinasikan disingkronkan dengan LPM akan segera memberikan pelayanan kesejahteraan sosial sesuai yang diharapkan oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Bali ( Pemerintah Provinsi Bali ) mengingat Karang Taruna sebagai ujung tombaknya dan berarti pula Karang Taruna mengisi kegiatan LPM.

Dengan bekal kemampuan dan kemapanan yang optimal, Karang Taruna akan mampu secara maksimal menangani permasalahan kesejahteraan sosial, sehingga permasalahan sosial yang ada di Desa / Kelurahan akan menjadi berkurang / hilang.

Dengan demikian LPM mampu memberikan kontribusi kepada Karang Taruna secara optimal melalui program-programnya dan masyarakat sendiri merasakan dampaknya yaitu permasalahan sosial berkurang, kesejahteraan sosial meningkat dan kesetiakawanan sosial maupun kebersamaan sosial menjadi kental.

Beberapa program UKS Karang Taruna yang dapat dikontribusikan dengan lembaga / organisasi lain dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, antara lain: Pencegahan / preventif terhadap tumbuhnya kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba, minuman keras dan lain-lain melalui kegiatan olah raga, kesenian dan rekreasi dll.

Pelayanan dan rehabilitasi sosial antara lain :kebersihan lingkungan, penyantunan para penyandang cacat anak terlantar secara rujukan maupun langsung, penyantunan para korban bencana dan lain-lain.

Pengembangan melalui kerjasama dengan organisasi sosial yang ada, pembentukan Kelompok Usaha Bersama, ketrampilan ekonomi produktif dll.

Kependudukan dan lingkungan hidup, kesehatan dan gizi, KB, pertanian dll.Program–program tersebut bersifat fleksibel ( dapat berubah ), mengembangkan dan tuntas tanpa menimbulkan akses-akses negatif. Adapun fungsinya antara lain : sebagai pencegahan, rehabilitasi, pengembangan dan penunjang.

Selain dari program , banyak kegiatan yang dapat diprogramkan untuk membangun Desa / Kelurahan khususnya pada bidang kesejahteraan sosial.
read more...